Senin, 02 Mei 2016

MAFIA HUKUM.ITU ADA

Koran sindo
Edisi 30-04-2016

Mafia Hukum Itu Ada

Oleh Moh Mahfud MD

Meskipun dulu pernah dicibir sebagai gosip belaka, istilah mafia hukum tiba-tiba mencuat lagi setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap tangan Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Eddy Nasution karena (sangkaan) penyuapan.

Terlebih lagi operasi tangkap tangan (OTT) itu diikuti dengan pencekalan atas Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi untuk bepergian ke luar negeri. KPK pun menyita dokumen perkara dan uang yang terdiri atas berbagai pecahan uang asing senilai Rp1,7 miliar dari kantor dan rumah Nurhadi yang digeledahnya.

Istilah mafia hukum atau mafia peradilan pun hampir setiap hari muncul di berbagai media massa. Ada stasiun televisi yang pada pekan ini menjadikan isu mafia hukum sebagai berita utama sekaligus topik dialog sampai berkali-kali, mulai pagi sampai tengah malam dan sampai pagi lagi. Judulnya tak main-main.

Edisi Kamis, 28 April kemarin, misalnya, pada dialog prime time news dibuat judul ”Ada Mafia Hukum di MA?” dan ”Nurhadi Makelar Perkara di MA?”. Istilah mafia hukum merupakan persamaan dan perubahan dari istilah mafia peradilan di Indonesia yang dulu dinisbatkan pada proses paradilan yang sangat koruptif.

Istilah mafia peradilan dikenal luas sejak era Orde Baru meski pemerintah sendiri kerap kali mempersoalkan penggunaan istilahnya. Oetojo Oesman, misalnya, saat menjadi menteri kehakiman pada 1990-an mengkritik penggunaan istilah tersebut sebagai berlebihan. Menurutnya istilah itu tidak tepat karena kalau mafia sebagai organisasi bandit, ada pimpinan dan pengurusnya yang identitasnya jelas seperti mafia di Sicilia.

Mafioso peradilan di Indonesia tidak jelas identitas pemimpinnya sehingga menurut Oetojo dan kawan-kawan, hal itu hanyalah isu atau gosip yang berlebihan belaka. Tapi Artidjo Alkostar dalam pidato dies natalis tahun 1996 di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta memastikan bahwa mafia peradilan itu ada.

Artidjo yang saat itu masih menjadi dosen dan advokat mengatakan, siapa pun yang tidak percaya adanya mafia peradilan, coba saja beperkara atau mengurus perkara ke pengadilan. Di sana, kata Artidjo, Anda akan langsung tahu bahwa mafia peradilan itu ada, bukan gosip, tapi fakta.

Mafia peradilan adalah kanker ganas yang harus dibasmi. Pengalaman sebagai advokat yang sering dibuat naik pitam oleh mafia peradilan itulah yang, kiranya, mendasari sikap-sikap Artidjo ketika menjadi hakim agung sejak tahun 2000 sampai sekarang. Sikapnya sangat keras terhadap mafia hukum dan tak mau berkompromi terhadap pelaku korupsi.

Istilah jual beli dan pengaturan perkara di pengadilan yang dulunya terkenal sebagai mafia pengadilan itu secara resmi berubah menjadi istilah mafia hukum ketika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi presiden Republik Indonesia (2004- 2009 dan 2009-2014). SBY-lah yang pertama kali menggunakan istilah mafia hukum yang sebelumnya disebut mafia peradilan.

Itu berarti pengakuan bahwa mafia hukum di pengadilan itu ada. Di dalam kampanye-kampanye pilpres, begitu juga di dalam pidato-pidato dan kebijakan kepresidenannya, SBY selalu menyebut mafia hukum secara resmi sebagai masalah besar bangsa kita.

Bahkan secara resmi pula SBY membentuk Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum yang dipimpin Kuntoro Mangkusubroto.
Satgas ini beranggotakan aktivis-aktivis anti korupsi seperti Denny Indrayana, Yunus Husein, dan Mas Achmad Santosa (Ota). Memperkuat pengakuan resmi oleh negara, adanya mafia hukum, faktanya, terbukti juga secara cetho welo-welo ketika Mahkamah Konstitusi (MK) di penghujung tahun 2009 membuka rekaman percakapan pengaturan perkara oleh Anggodo Widjojo.

Kasus yang sering disebut sebagai kriminalisasi terhadap Komisioner KPK Chandra Hamzah dan Bibit Samad itu membuktikan terjadinya pengaturan perkara oleh Anggodo melalui pembicaraan-pembicaraanyang bernada instruktif terhadap para penegak hukum.
Dalam kasus Anggodo itu terbukti jelas adanya pembicaraan pengaturan perkara antara Anggodo dengan pejabat tinggi kejaksaan agung, pejabat Polri, pejabat LPSK, pengacara, dan sebagainya.

Bukti mafia hukum yang terungkap dari rekaman hasil penyadapan oleh KPK yang disetel di MK itu kemudian menjungkalkan beberapa pejabat penting dan mengantar Anggodo dan yang lain ke penjara.

Kasus Gayus Tambunan tak kalah menghebohkan. Pegawai Direktorat Jenderal Pajak yang masih sangat yunior itu telah melakukan kejahatan dengan mafia yang melibatkan polisi (Sumarni), jaksa (Cirus Sinaga), hakim (Ibrahim), pengacara (Haposan), dan lain-lain.

Kasus Gayus dan Anggodo adalah contoh yang cukup sempurna dalam mafia hukum sehingga istilah mafia hukum lebih mudah didefinisikan. Mafia hukum adalah pengaturan perkara secara curang yang melibatkan aparat penegak hukum dan calo-calo untuk membuat putusan pengadilan menjadi seperti yang diinginkan oleh penyuap.

Tentu saja kurang fair kalau saya membahas mafia hukum dengan hanya mengambil contoh dari kasuskasus di MA, Polri, kejaksaan, dan dunia advokat tanpa menyebut juga MK. Di MK pun sudah terbukti secara sah dan meyakinkan ada mafia hukum.

Penghukuman secara inkracht terhadap mantan Ketua MK yang melibatkan perantara Mochtar Ependi dan beberapa kepala daerah yang kemudian juga dihukum karena penyuapan adalah bukti nyata bahwa di MK pun ada mafia hukum. Jadi terlepas dari apa pun hasil penanganan KPK atas OTT terhadap Panitera PN Jakarta Pusat dan pencekalan serta penggeledahan di kantor dan rumah Sekretaris MA Nurhadi, terbukti atau tak terbukti, simpulannya, mafia hukum itu ada.

Problem utama bangsa kita ini sebenarnya bersumbu di mafia hukum. Kasus narkoba atau korupsi dan lain-lain yang dianggap sangat membahayakan itu sebenarnya bersumbu pada soal penegakan dan mafia hukum.

MOH MAHFUD MD
Ketua Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan
Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN):
Ketua MK-RI 2008-2013

Sumber:
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=0&n=3&date=2016-04-30
(Shared by Cakpen 2/5/16)

Minggu, 01 Mei 2016

ILMU YAKIN

Soal keyakinan masing2 sy pikir tdk perlu diperdebatkan, seorang akrobatis dgn keyakinannya bisa melalui kawat horisontal tanpa berpegangan pada penyangga, kita sulit bisa krn kita berangkat dari tidak yakin...

Bila melihat Shohih Bukhari bab wudhu, ketika Nabi SAW selesai wudlu, bekas airnya dijadikan rebutan oleh para sahabat utk tabarruk(mengharap berkah Allah dari sisa wudlu Nabi yg dikasihi Allah), dan hebatnya Nabi tdk marah atau melarang prilaku sahabat Nabi..Subhanallah

Sepakat dgn Mas Sarmuji bahwa semua berpulang pada i'tiqodnya (maksu terdalam/niat murni)..bila kita sholat dgn i"tiqod nyembah Batu itu jelas syirik, jika kita sholat utk menyembah Allah SWT meskipun dihadapan kita ada kuda atau tembok sbg pembatas maka itu tdk syirik..

Bila kita minum paramex utk menyembuhkan sakit kepala, setelah sembuh kita memuji obatnya itu syirik..karena realitas Maha Penyembuh hanya Allah.. Yang benar kita hrs bergantung kpd Allah SWT dlm urusan apapun..inilah Tauhid.

Kembali pada minum bekas Kiai selama i'tiqadnya tabarruk kpd Allah SWT agar diberi kemulyaan seperti Kiai..jelas itu bukan Syirik
Kepada Allah SWT kita kembalikan segala urusan
Shollu Alan Nabiy Wa Alihi Wa Shohbihi..🙏🏻🕌😀

(Shared by Cakpen 1/5/16)

TAX AMNESTY

#MAJALAH AKTUAL EDISI 53
#FREE MAGZ #April-Mei 2016
#Download #Share

PANAMA PAPERS DATANG TAX AMNESTY DISAYANG

Pembaca yang budiman. Gelombang Panama Papers ternyata sampai ke Indonesia. Meski kelihatan datar dan sedikit beriak di permukaan, ternyata gelombang Panama Papers cukup keras di kedalaman.

Laporan utama kali ini, Aktual mencoba untuk melihat implikasi dan beberapa catatan penting Panama Papers buat Indonesia. Pada perkembangannya, ternyata ada keterkaitan yang cukup erat antara Panama Papers, pembahasan UU Tax Amnesty di DPR dan kejahatan pajak.

Ada fakta yang cukup mengejutkan DPR langsung menyambut isu Panama Papers dengan UU Tax Amnesty. Ditambah lagi dengan penangkapan buron kasus B LBI, Samadikun Hartono.

Soal Ahok di kasus reklamasi dan RS Sumber Waras tampaknya masih tetap jadi sorotan Aktual kali ini. Beberapa penelusuran investigatif Aktual ternyata menguatkan dugaan bahwa Proyek reklamasi di Jakarta sebenarnya sudah direncanakan sejak Jokowi masih sebagai Pejabat Gubernur DKI Jakarta.

Sebuah tulisan soal jejak Jokowi di proyek reklamasi kami sajikan agar tali temali sejarah proyek besar bernama reklamasi teluk Jakarta tidak terputus di Gubernur Basuki saja. Mantan Gubernur Foke dan Jokowi ternyata punya rekam jejak di proyek Reklamasi Teluk Jakarta.

Bahkan, Jokowi ingin pusat pemerintahan negara ini akan dipindahkan ke salah satu pulau jika proyek reklamasi teluk Jakarta ini selesai kelak. Ini adalah informasi yang ditemukan tim Aktual.

Di kasus Rumah Sakit Sumber Waras, media jarang menyorot peran istri Gubernur Basuki. Padahal, orang yang juga tahu dan paham bagaimana proses mendirikan rumah sakit kanker baru di Jakarta adalah Veronica Tan, istri Gubernur Basuki. Dan, masih banyak beberapa tulisan menarik yang bisa pembaca nikmati di edisi kal ini. Semoga bermanfaat… Selamat membaca

Download :

http://www.aktual.com/wp-content/uploads/2016/04/Majalah-Aktual-Edisi-53-ms.pdf

******
(Shared by cakpen 1/5/16)

HARI PENDIDIKAN NASIONAL

Selamat Hari Pendidikan untuk anak muda yang belajar di perantauan.
=========================

Lampu belajar masih menemani. Buku masih terbuka. Berjam-jam duduk di meja belajar. Mata terus membaca, tangan mencatat di buku tulis. Di kamar yang mungil, jauh dari kampung halaman.

Ribuan, bahkan ratusan ribu anak muda tinggalkan kampung halaman, jauh dari Ibu, Ayah, dan saudara mereka. Kampung halaman yang penuh kenangan masa kecil itu mereka tinggalkan untuk satu tujuan: pendidikan.

Semua pasti masih ingat saat keluarga mengantarkan, melepas bersekolah jauh. Kristal butiran air mata Ibu saat melepas anak berangkat seakan cermin jernihnya cinta. Anak adalah cinta berbalut harapan. Ibu melepaskan anak untuk merantau jauh demi pendidikan yang lebih baik; melepaskannya dengan cinta, mengalunginya dengan harapan, dan menyematkannya doa tanpa akhir.

Buat anak-anak muda yang sedang di rantau, jauh dari Ibu, Ayah dan saudara, pada malam menjelang Hari Pendidikan ini, saya ucapkan selamat berjuang, selamat belajar.

Rute perjalanan yang kalian tempuh adalah rute yang telah mengantarkan jutaan anak muda negeri ini meraih kehidupan yang lebih baik. Jaga stamina!

Yakinlah bahwa pendidikan akan bisa mengantarkan pada kehidupan yang lebih baik. Pendidikan jadi tangga untuk menuju cita-cita, menuju harapan. Tiap hari satu anak tangga dilewati.

Anak muda memang seharusnya pilih jalan mendaki. Jalan berat penuh tantangan tapi bisa mengantarkan ke puncak. Jadikan perpisahan dengan keluarga itu sebagai awal perjumpaan dengan cita-cita.

Pada tiap lembar bacaan, ada doa Ibu dan Ayah. Pada tiap karya tulis dan pekerjaan dari guru atau dosen, ada harapan dari Ibu dan Ayah. Mereka mungkin tidak tahu satu per satu yang dikerjakan anaknya, tapi mereka tak pernah berhenti hibahkan semua yang mereka miliki untuk kebaikan dan kebahagiaan anak mereka.

Teruslah belajar. Jangan biarkan waktu bergulir tanpa makna. Buka hari dengan cerahnya mata hati, dan tutup hari dengan tuntasnya asupan ilmu dan pengetahuan baru.

Janjilah kepada Ibu dan Ayah, suatu hari nanti mereka akan melihat anak mereka pulang membawa ilmu, membawa makna dan menjawab semua doa dengan melampaui  harapan Ibu dan Ayah mereka. Izinkan mereka kelak menyongsongmu dengan rasa bangga dan syukur. Doa tulusnya dijawab oleh keberhasilan anaknya.

Selamat Hari Pendidikan, selamat memasuki Bulan Pendidikan, selamat meneruskan belajar, dan selamat melampaui cita-cita!

Salam,

Anies Baswedan
Cilandak, 1 Mei 2016, 23.07
(Shared by cakpen 1/5/16)

KEJAMNYA WAKTU SUBUH

RENUNGAN PAGI

✔ KEJAMNYA WAKTU SUBUH"

Oleh:
Abu Qomar Al Faruq

Sahabat...
Saya yakin di antara kita sdh mengetahui keistimewaan waktu Subuh. Hari ini ada baiknya kita melihat waktu Subuh dgn kacamata yg lain, yaitu dari bahaya waktu Subuh bila kita tidak dapat memanfaat kannya.

Allah bersumpah dalam Al Fajr : “Demi fajar (waktu subuh)”.

Kemudian dalam Al Falaq, Allah mengingatkan:
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

“Katakanlah! Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh”.

Ada apa di balik waktu Subuh?

Mengapa Allah bersumpah demi waktu Subuh?

Mengapa harus berlindung kpd yang menguasai waktu Subuh?

Apakah waktu Subuh sangat berbahaya?

Ya, ternyata waktu Subuh benar-benar sangat berbahaya!

Waktu Subuh lebih kejam dari sekawanan perampok bersen jata api.

Waktu Subuh lebih menyengsarakan dari derita kemiskinan.

Waktu Subuh lebih berbahaya dari kobaran api yg disiram bensin…

Jika ada sekawanan perampok menyatroni rumah Anda, dan mengambil paksa semua barang Anda: uang dan semua perhiasan emas digondolnya. Uang cash puluhan juta ditilepnya. Laptop, yang berisi data2 penting Anda juga diem batnya. Eh, mobil yg belum lunas juga digasaknya.

Bagaimana rasa pedih hati Anda menerima kenyataan ini?

Ketahuilah,
bahwa waktu Subuh lebih kejam dari perampok itu. 

Karena jika Anda tergilas sang waktu Subuh sampai melalaikan shalat fajar, maka Anda akan menderita kerugian lebih besar dari sekedar kehilangan laptop dan mobil.

Anda kehilangan dunia dan segala isinya.

Ingat sabda Rasulullah Saw: “Dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”
(HR Muslim).

Waktu Subuh juga lebih menyengsarakan dari sekedar kemiskinan dunia.

Karena bagi orang2 yg tergilas waktu Subuh hingga mengabai kan shalat Subuh berjamaah di masjid, maka hakikatnya, merekalah orang2 miskin sejati yg hanya mendapatkan upah 1/150 (0,7%) saja pahala shalatnya.

“…dan barangsiapa yang shalat Subuh berjamaah, maka ia bagaikan shalat semalam suntuk” (HR Muslim).

Shalat semalam suntuk adalah shalat yg dikerjakan mulai dari tenggelamnya matahari sampai terbit fajar. Fantastis!

Shalat selama sepuluh jam…, atau kurang lebih 150 kali shalat! Betapa agung fadilah shalat Subuh berjamaah ini. Betapa malangnya orang yg tergilas waktu Subuh, orang2 yg mengabaikan shalat subuh berjamaah di masjid.

Waktu Subuh juga lebih berbahaya dari kobaran api yg disiram bensin.

Mengapa demikian? Tahukah Anda bahwa Nabi Saw menyeta rakan dgn orang munafik bagi yg tidak mampu melaksanakan shalat Subuh berjamaah?

“Sesungguhnya tiada yang dirasa berat oleh seorang munafik, kecuali melaksanakan shalat Isya dan shalat Subuh. Sekiranya mereka tahu akan keagungan pahalanya, niscaya mereka bakal mendatanginya (ke masjid, shalat berjamaah) sekalipun harus berjalan merangkak-rangkak”
(HR Bukhari Muslim).

Orang yg tergerus waktu Subuh hingga tak mampu mendatangi masjid utk shalat berjamaah adalah orang yg dalam keadaan bahaya, karena disetarakan dgn orang munafik.

Padahal, ancaman bagi orang munafik adalah neraka Jahannam.
“Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang2 munafik dan orang2 kafir di dalam Jahannam” (An Nisa:140).

Bukankah Jahannam lebih berbahaya dari sekedar kobaran api yg disiram bensin?

Nah, agar tidak merasakan gilasan waktu Subuh yg lebih kejam dari perampokan, agar tidak terkena gilasan waktu Subuh yg lebih menyengsara kan dari derita kemiskinan, dan agar tidak tertelan gerusan waktu Subuh yg lebih berbaha ya dari kobaran api, maka: “Katakanlah! Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh.” (Al Falaq:1).

Yaitu dengan memanfaatkan waktu Subuh sebaik-baiknya. Lakukan shalat sunnah qabliyah Shubuh (shalat fajar) dan shalat Shubuh berjamaah di masjid - bagi pria, di rumah - bagi wanita.

Barakallah fiikum.
(Shared by cakpen 1/5/16)

Kamis, 28 April 2016

MENGGEMGGAM MASALAH

🌺- MENGGENGGAM MASALAH.-🌺

Di Afrika, ada sebuah teknik yang unik untuk berburu monyet di hutan Afrika. Si pemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup2 tanpa harus menggunakan senapan dan obat bius, dan tanpa cidera.

Cara menangkapnya sederhana saja, pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit. Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma untuk mengundang monyet2 datang.

Setelah diisi kacang, toples2 itu ditanam dalam tanah dengan menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.

Para pemburu melakukannya disore hari. Besoknya, mereka tinggal meringkus monyet2 yang tangannya terjebak didalam botol tak bisa dikeluarkan.

Kok, bisa ?

Monyet2 itu tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples.
Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang2 yang ada di dalam. Tapi karena menggenggam kacang, maka monyet2 itu tidak bisa menarik keluar tangannya.

Selama mempertahankan kacang2 itu, selama itu pula mereka terjebak.

Toples itu terlalu berat untuk diangkat. Jadi, monyet2 itu tidak akan dapat pergi ke-mana2 .. !!

Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah monyet2 itu.

Tapi, tanpa sadar sebenarnya banyak manusia melakukan hal yang sama seperti monyet2 itu.

Mereka mengenggam erat setiap permasalahan yang dimiliki layaknya monyet mengenggam kacang.

Mereka sering menyimpan dendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah mengampuni.

Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi bara amarah masih ada di dalam dada. Sehingga tak pernah bisa melepasnya.

Bahkan, terkadang membawa "toples2" itu kemana pun mereka pergi. Mereka terus berusaha jalan dengan beban berat itu.

Tanpa sadar, mereka sebenamya sudah terperangkap penyakit kepahitan yang akut.

Sebenarnya monyet2 itu bisa selamat jika mau membuka genggaman tangannya dan begitu pun manusia...

Mereka akan selamat dari sakit hati jika sebelum matahari terbenam mereka mau melepaskan semua perasaan negatif terhadap siapapun.

Ayo segerakan buka genggaman kita...
Jangan tiru tingkah monyet-monyet itu.
.SEMANGAT PAGIII ... KABEH ..
(Shared by cakpen 29/4/16).

NGAJI MALAM JUMAT

Ngaji malam jumat

Haji Pengabdi Setan

Oleh: Ali Mustafa Yaqub*

IBADAH haji 1426 H, pekan lalu, usai sudah. Jamaah haji Indonesia mulai pulang ke Tanah Air. Bila mereka ditanya apakah Anda ingin kembali lagi ke Mekkah, hampir seluruhnya menjawab, ''Ingin.'' Hanya segelintir yang menjawab, "Saya ingin beribadah haji sekali saja, seperti Nabi SAW."

Jawaban itu menunjukkan antusiasme umat Islam Indonesia beribadah haji. Sekilas, itu juga menunjukkan nilai positif. Karena beribadah haji berkali-kali dianggap sebagai barometer ketakwaan dan ketebalan kantong. Tapi, dari kacamata agama, itu tidak selamanya positif.

Kendati ibadah haji telah ada sejak masa Nabi Ibrahim, bagi umat Islam, ia baru diwajibkan pada tahun 6 H. Walau begitu, Nabi SAW dan para sahabat belum dapat menjalankan ibadah haji karena saat itu Mekkah masih dikuasai kaum musyrik. Setelah Nabi SAW menguasai Mekkah (Fath Makkah) pada 12 Ramadan 8 H, sejak itu beliau berkesempatan beribadah haji.

Namun Nabi SAW tidak beribadah haji pada 8 H itu. Juga tidak pada 9 H. Pada 10 H, Nabi SAW baru menjalankan ibadah haji. Tiga bulan kemudian, Nabi SAW wafat. Karenanya, ibadah haji beliau disebut haji wida' (haji perpisahan).

Itu artinya, Nabi SAW berkesempatan beribadah haji tiga kali, namun beliau menjalaninya hanya sekali. Nabi SAW juga berkesempatan umrah ribuan kali, namun beliau hanya melakukan umrah sunah tiga kali dan umrah wajib bersama haji sekali. Mengapa?

Sekiranya haji dan atau umrah berkali-kali itu baik, tentu Nabi SAW lebih dahulu mengerjakannya, karena salah satu peran Nabi SAW adalah memberi uswah (teladan) bagi umatnya. Selama tiga kali Ramadan, Nabi SAW juga tidak pernah mondar-mandir menggiring jamaah umrah dari Madinah ke Mekkah.

Dalam Islam, ada dua kategori ibadah: ibadah qashirah (ibadah individual) yang manfaatnya hanya dirasakan pelakunya dan ibadah muta'addiyah (ibadah sosial) yang manfaatnya dirasakan pelakunya dan orang lain. Ibadah haji dan umrah termasuk ibadah qashirah. Karenanya, ketika pada saat bersamaan terdapat ibadah qashirah dan muta'addiyah, Nabi SAW tidak mengerjakan ibadah qashirah, melainkan memilih ibadah muta'addiyah.

Menyantuni anak yatim, yang termasuk ibadah muta'addiyah, misalnya, oleh Nabi SAW, penyantunnya dijanjikan surga, malah kelak hidup berdampingan dengan beliau. Sementara untuk haji mabrur, Nabi SAW hanya menjanjikan surga, tanpa janji berdampingan bersama beliau. Ini bukti, ibadah sosial lebih utama ketimbang ibadah individual.

Di Madinah, banyak ''mahasiswa'' belajar pada Nabi SAW. Mereka tinggal di shuffah Masjid Nabawi. Jumlahnya ratusan. Mereka yang disebut ahl al-shuffah itu adalah mahasiswa Nabi SAW yang tidak memiliki apa-apa kecuali dirinya sendiri, seperti Abu Hurairah. Bersama para sahabat, Nabi SAW menanggung makan mereka. Ibadah muta'addiyah seperti ini yang diteladankan beliau, bukan pergi haji berkali-kali atau menggiring jamaah umrah tiap bulan. Karenanya, para ulama dari kalangan Tabiin seperti Muhammad bin Sirin, Ibrahim al-Nakha'i, dan Malik bin Anas berpendapat, beribadah umrah setahun dua kali hukumnya makruh (tidak disukai), karena Nabi SAW dan ulama salaf tidak pernah melakukannya.

Dalam hadis qudsi riwayat Imam Muslim ditegaskan, Allah dapat ditemui di sisi orang sakit, orang kelaparan, orang kehausan, dan orang menderita. Nabi SAW tidak menyatakan bahwa Allah dapat ditemui di sisi Ka'bah. Jadi, Allah berada di sisi orang lemah dan menderita. Allah dapat ditemui melalui ibadah sosial, bukan hanya ibadah individual. Kaidah fikih menyebutkan, al-muta'addiyah afdhol min al-qashirah (ibadah sosial lebih utama daripada ibadah individual).

Jumlah jamaah haji Indonesia yang tiap tahun di atas 200.000 sekilas menggembirakan. Namun, bila ditelaah lebih jauh, kenyataan itu justru memprihatinkan, karena sebagian dari jumlah itu sudah beribadah haji berkali-kali. Boleh jadi, kepergian mereka yang berkali-kali itu bukan lagi sunah, melainkan makruh, bahkan haram.

Ketika banyak anak yatim telantar, puluhan ribu orang menjadi tunawisma akibat bencana alam, banyak balita busung lapar, banyak rumah Allah roboh, banyak orang terkena pemutusan hubungan kerja, banyak orang makan nasi aking, dan banyak rumah yatim dan bangunan pesantren terbengkalai, lalu kita pergi haji kedua atau ketiga kalinya, maka kita patut bertanya pada diri sendiri, apakah haji kita itu karena melaksanakan perintah Allah?

Ayat mana yang menyuruh kita melaksanakan haji berkali-kali, sementara kewajiban agama masih segudang di depan kita? Apakah haji kita itu mengikuti Nabi SAW? Kapan Nabi SAW memberi teladan atau perintah seperti itu? Atau sejatinya kita mengikuti bisikan setan melalui hawa nafsu, agar di mata orang awam kita disebut orang luhur? Apabila motivasi ini yang mendorong kita, maka berarti kita beribadah haji bukan karena Allah, melainkan karena setan.

Sayangnya, masih banyak orang yang beranggapan, setan hanya menyuruh kita berbuat kejahatan atau setan tidak pernah menyuruh beribadah. Mereka tidak tahu bahwa sahabat Abu Hurairah pernah disuruh setan untuk membaca ayat kursi setiap malam. Ibadah yang dimotivasi rayuan setan bukan lagi ibadah, melainkan maksiat.

Jam terbang iblis dalam menggoda manusia sudah sangat lama. Ia tahu betul apa kesukaan manusia. Iblis tidak akan menyuruh orang yang suka beribadah untuk minum khamr. Tapi Iblis menyuruhnya, antara lain, beribadah haji berkali-kali. Ketika manusia beribadah haji karena mengikuti rayuan iblis melalui bisikan hawa nafsunya, maka saat itu tipologi haji pengabdi setan telah melekat padanya. Wa Allah a'lam.[ ]

*Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta
(Shared by cakpen 29/4/16)